Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha

“Puasa =  Membudayakan Menunda?”

Alhamdulillah puasa Ramadhan berusaha dijalani sebaik-baiknya, meski diakui masih penuh kekurangan untuk disejajarkan sebagai puasa orang-orang shaleh. Paling tidak, ada upaya sungguh-sungguh untuk melakasanakannya sepenuh hati, jiwa dan raga. Allah melihat sejauh mana usaha yang dilakukan untuk menyempurnakan puasa.

Bagi yang puasanya bolong-bolong karena alasan fisik lemah, haid, sakit, musafir dan (cuaca yang tidak bersahabat, lingkungan yang tidak mendukung, alasan pekerjaan, tanyakan pada Ustads yang ahli Fiqih, boleh nggak tidak berpuasa alasan dalam kurung ini), gantilah di lain hari; ada waktu 11 bulan untuk mengganti puasa Ramadhan. Jangan remehkan “kelalaian yang dilakukan” dengan tidak mengganti puasa, sebab jika diremehkan justru membuatnya menjadi dosa besar yang sulit diampuni Allah. Gantilah puasa yang bolong secepatnya di luar bulan Ramadhan.

Sebelumnya telah ditulis beberapa hikmah dari puasa Ramadhan, namun rasanya ada sesuatu yang kurang yakni apa makna hakiki dari puasa? Setelah merenung lama untuk menemukan kebenaran, mendadak berkelebat ilham yakni inti puasa adalah Menunda. Lho, kok bisa?

Ketika berpuasa, kita dilarang makan,minum dan menuruti kehendak hawa nafsu yang halal sampai waktu berbuka puasa Magrib. Ini berarti, sebenarnya waktu makan dan minum ditunda pada waktu Magrib, waktu menyalurkan kebutuhan biologis ditunda pada malam hari (shalat Tarawih dulu biar tenang), dan waktu menikmati yang halal lainnya ditunda.

Dengan memaknai puasa sebagai upaya menunda sesuatu yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu, membuat setiap Muslim tidak lagi menjadikan puasa sebagai beban, justru lebih santai melakukannya karena hanya menunda kok, tidak lebih dan kurang. Pekerjaan menunda berkaitan dengan kesabaran, tanpa kesabaran, maka pekerjaan menunda bisa berantakan; penuh keluhan, protes karena perut memberiontak, ngomel sana sini tanpa alasan, dan ujung-ujungnya tidak melakukan puasa.

Nilai utama puasa berarti bersabar menghadapi segala sesuatu yang dialami, dirasakan, dilihat dan dilalui. Itu berarti salah satu tanda puasa seseorang diterima ialah lebih bersikap sabar dari sebelumnya. Nabi Muhammad SAW bersabda; “Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah.” (HR. Bukhari Muslim). Inilah hakikat sabar. Malah, jika ingin meneladani Nabi Muhammad; Suku Thaif yang melempari beliau dengan batu sambil menghina dan memaki-maki, justru didoakan agar mendapatkan hidayah Allah. Inilah tingkat sabar yang tertinggi di hadapan Allah SWT.

Seandainya kita berpikir lebih dalam, sebenarnya bukan hanya puasa yang bermakna menunda, melainkan kehidupan akhirat diperoleh dengan menunda kesenangan di dunia, meski sebagian kesenangan dibolehkan seperti makan, minum dan hubungan suami istri. Umat Islam disuruh menunda minum minuman keras (khamr), sebab nanti di akhirat dapat meminum sepuas-puasnya. Bagi yang belum menikah dianjurkan berpuasa agar mampu menahan hawa nafsu -jika sudah mampu menikah dianjurkan menikah-, sebab nanti Bidadari yang luar biasa cantik tiada banding dengan gadis tercantik di dunia (Dian Sastro, Paris Hilton, dan Ais Rawaray tidak ada apa-apa, deh! Dijamin 100% jika bersabar menunda), perawan terus menerus lagi. Ketika di dunia diminta menikmati makan secukupnya, nanti di surga apa saja dapat dimakan sepuasnya dengan tanpa repot-repot buang air besar dan kecil. Jika berpakaian dianjurkan yang sederhana, bersih dan harum, nanti memakai baju sutra terbaik yang pernah ada. Jika membangun rumah jangan terlalu mewah karena bisa berlebihan, nanti bangunan kita berasal dari emas. Jika menggunakan alat dapur yang penting bersih dan suci, nanti semuanya terbuat dari emas. Jika rumah di dunia paling luas 1000 meter persegi (milik artis dan orang kaya raya di dunia), nanti hamba Allah yang dikasihi memiliki rumah seluas langit dan bumi. Jika demikian, bukankah mulai sekarang kita harus membudayakan “Menunda.”

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa beliau dan Ahlul Bait (keturunan Nabi) sudah menukar Dunia dengan Akhirat. Ini bermakna, beliau beserta seluruh keturunannya (yang mengaku keturunan Nabi harus memperhatikan hal ini) sudah mengganti kehidupan dunia yang palsu dengan akhirat. Menukar lebih utama dari menunda, sebab dengan menukar berarti kehidupan dunia sama sekali diindahkan, kecuali sebagian kecil saja, ditukar dengan akhirat. Jadi setelah mampu menunda, kita tingkatkan diri dengan menukar kehidupan dunia dengan akhirat seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Jangan terbalik! Sebab ada sebagian umat Islam yang belum apa-apa sudah menukar, padahal belum mampu melakukan penundaan dengan baik, dan lahir/batin belum siap. Akibatnya justru tidak mampu bertahan seumur hidup, malah membawa kemudharatan.

Dalam meraih kesuksesan di kehidupan dunia, ternyata prinsip menunda ini sangat penting sekali. Cobalah selidiki orang-orang yang kaya raya, berprestasi, dan tokoh hebat di dunia, mereka mampu menunda kehidupan yang lebih baik selama puluhan tahun. Walt Disney, baru menjelang tua mampu mewujudkan mimpinya membuat Disney Land, Bill Gates menunda beberapa tahun dengan hidup di garasi guna melahirkan Dos dan Microsoft, Ibnu hajar menunda 10 tahun untuk menjadi seorang Alim Ulama’, dan Hamka menunda puluhan tahun sebelum diakui sebagai Prof. Dr. tanpa kuliah formal. Seberapa kuat Anda menunda sesuatu, seberapa lama Anda bertahan, dan seberapa tangguh mental Anda menghadapi godaan-godaan yang menggagalkan upaya menunda, maka sebesar itu pula bayaran berupa kesuksesan di dunia. Bagaimana dengan yang berusaha untuk sukses, tapi tetap miskin atau gagal?

Jawabannya sederhana, bagi hamba-hamba Allah pilihan yang berusaha sekuat tenaga untuk berhasil demi kebaikan sesama, demi mensucikan diri, demi kemaslahatan keluarga atau masyarakat, dan mencapai Ridha Allah, maka kesuksesan yang lebih besar ditukar untuk hari akhirat kelak, asal tetap dalam keadaan Muslim dan Mukmin sampai menjelang ajalnya. Contohnya; Uwais Al-Qarni yang hidup biasa-biasa saja, malah bekerja pada orang lain dengan mengambil jasa dari menggembalakan kambing, tapi mengabdikan hidup untuk melayani Ibunya tercinta, bahkan karena itu sampai tidak mampu berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Tahukah Anda keutamaan Uwais Al-Qarni? Umar bin Khattab (istananya di surga sangat megah dan Khalifah terbaik umat Islam) dan Ali Bin Abi Thalib (yang berhasil mempersunting Siti Fatimah putri Nabi Muhammad, sehingga mempertahankan garis keturunan beliau dan paling tinggi ilmunya di antara sahabat-sahabat yang lain), diharap oleh Nabi Muhammad untuk meminta doa pada Uwais karena beliau merupakan Penduduk Langit. Subhanallah! Allahu Akbar! Laa Haula Wala Quwwata Illah Billah!

Puasa hakiki diperoleh dengan kemampuan menunda yang hebat. Kesuksesan dunia diraih dengan menunda puluhan tahun. Kehidupan akhirat dicapai dengan menunda seumur hidup, malah jika bisa kehidupan dunia ditukar dengan akhirat. Intinya ialah, mari berlatih, membiasakan dan menjadikan budaya menunda sebagai bagian terpenting kehidupan kita. Semoga kita semua mampu memegang prinsip “menunda” ini, sehingga mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Amien!

 

Catatan: Tapi ingat menunda-nunda pekerjaan sehari-hari bukan bagian dari makna “menunda” di atas.

 

http://sampenulis.wordpress.com/puasa-idul-fitri-dan-idul-adha/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s